Buzzer

Setelah beberapa bulan absen dari aktifitas blogging, alhamdulillah, akhirnya dapat ide juga. Ide ini muncul secara tiba-tiba setelah melihat salah satu cuitan di timeline akun Twitter saya.

Secara sederhana, seorang “buzzer” adalah pengguna Twitter yang mampu memberikan pengaruh hanya melalui tweet yang dia kirimkan, dan tentu saja seorang buzzer biasanya memiliki jumlah pengikut yang cukup banyak atau bahkan sangat banyak.

Buzzer twitter, politik, pilkada, pilpres, pilwali, pilgub, tentang buzzer, buzzer adalah, kesalahan buzzer
Tweet pencerahan ihwal buzzer.

Aku ndak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi yang jelas aku ndak menyalahkan sampeyan atau njenengan, hehehe.

Sejak Pilpres 2014 yang lalu, aku mulai merasakan keanehan ketika membaca tweets para buzzer dari kedua kubu, baik buzzer berbayar ataupun buzzer gratisan. Tentu saya paham jika pada intinya para buzzer ingin paslon presiden / gubernur / walikota / bupati yang mereka dukung memenangkan pemilu. Pada intinya kan itu. Tapi lambat laun kok tujuannya terkesan bergeser. Ya, tentu saja tidak semua buzzer seperti itu.

Seperti yang dicuitkan oleh Pak Nukman Lutfie, jika tujuan paslon gubernur adalah untuk memenangkan hati para pemilih, maka tujuan dari buzzer adalah untuk memenangkan twitwar, hehehe. Bagi saya kok lucu ya?

Kadang kalau saya mengamati twitwar itu seru, kadang malah terlihat lucu, tapi ndak jarang juga malah jadi jengkel, itu kalau sudah keterlaluan. Dan kalau sudah mulai jengkel, lebih baik saya hentikan mengamati twitwar.

Nah silahkan dibayangkan, bagaimana kalau ada banyak pemilih yang pada akhirnya jengkel pada paslon tersebut, hanya gara-gara tweet seorang buzzer. Wah, jadi gagal memenangkan hati para pemilih kan?

Kalau di Facebook, cukup sering saya melihat beberapa buzzer laki tapi lambe wedok, hahaha. Lha gimana ndak saya sebut lambe wedok, kalau hampir setiap buka Facebook selalu lihat si buzzer nggosip, nyinyir, nyonyor pada paslon tertentu. Ndak cuman menggosip, nyinyir dan nyonyor pada paslon, tapi pada setiap orang yang berseberangan dengan dia. Bukankah seharusnya si buzzer itu mampu memenangkan hati calon pemilih?

Selamat malam jumat buat njenengan dan sampeyan semua. Kalau menurut sampeyan dan njenengan bagaimana?

Leave a Reply